Slice of Life

Ask me anything   Submit   slice–of–life. I just made up this little vignette, a small moment in life between two people, of sentimental value, a tiny fragment in terms of a lifetime, which had meaning for those who are in or observant of the story.

twitter.com/aliyonggg:

    mbeeer:

    Kelak, akan datang suatu hari di mana kita akan sama-sama bahagia. 
    Kelak, akan datang suatu hari di mana kita akan sama-sama berhenti berlayar.

    Terimakasih telah menjadi sebagian cerita dalam hidupku dulu.
    Bertemu denganmu, aku tak pernah menyesal.

    So long, partner.

    — 1 week ago with 1039 notes

    Ibu bilang, "Jangan meninggalkan kekecewaan di hati seseorang. Meski orang tersebut tidak tau" →

    annisaindras:

    Jadi, bagaimana rasanya jika kehadiran seseorang mampu menyederhanakan kesedihanmu. Aku ingin tau. Bagaimana rasanya memiliki seseorang yang berani memberimu ruang ketika kamu sedang menangis, bukan memperdebatkan apa yang salah, dan bagaimana yang seharusnya. Aku ingin tau.

    Bagaimana rasanya…

    — 3 weeks ago with 13 notes

    mandalawangi:

jangan sampai berpisah dgn orang2 yang kita sayangi 

    mandalawangi:

    jangan sampai berpisah dgn orang2 yang kita sayangi 

    (Source: kuntawiaji)

    — 3 weeks ago with 472 notes

    June 22th, 2014

    New place. New friends. 

    Rafting @sukabumi 

    — 1 month ago

    lomographicsociety:

    Be one of the last, but swift backers to support us in our mission of reaching the $1,000,000 stretch goal on our Lomo’Instant Kickstarter! http://kck.st/1thRRCK

    (via lomographicsociety)

    — 1 month ago with 136 notes

    Ceritanya lagi sok kritis. Ceritanya

    Entah manusia akan menjadi apa pada akhirnya. Melihat makin banyak dari mereka yang sangat menjunjung tinggi apa itu liberalisasi, freedom, atau kebebasan, dengan mengatasnamakan HAM, bahkan.

    Diawali dari beberapa orang yang mengeluarkan statement “agama udah gak relevan sob jaman sekarang” berakhir pada sebuah headline berita “kolom agama akan dihapuskan di KTP”

    Seseorang berkata, pada akhirnya poin pentingnya adalah, gue takut akan “udah ga jaman bro punya agama, di ktp aja uda dihapus” lantas benar katanya, siapa yang akan bertanggung jawab dan akan bersedia mengotrol dampaknya? MUI-kah?

    gak tau kenapa, buat gue aturan tertulis itu keliatan sekadar formalitas belaka, toh banyak orang berkata “aturan ada buat dilanggar”. mulai dari paradigma cara berpikir manusia yang seperti itulah yang menyesatkan mereka, membolak-balikkan memainkan kata berdasarkan premis atau dasar ilmu filosofi.

    Banyak sebagian orang diluar sana yang berpikir terlampau kritis, kerjaannya mengkritisasi sistem namun tdk menawarkan solusi konkret, atau mereka mungkin menemukan solusi konkretnya namun menganggap tdk cocok utk diimplementasikan di tempat tinggalnya.

    Jaman dulu dunia terlihat lebih damai, orang dulu sangat tau bagaimana dan apa yang harus mereka lakukan. Bukan membanding-bandingkan orang dulu dan sekarang, yaa walaupun terlihat jelas kemajuan taraf hidup yang ditunjang teknologi canggih yang menjadi kebanggaan orang jaman sekarang.

    Menurutnya, sekedar eksis di sosmed, mempunyai path, facebook, twitter, bahkan instagram adalah kemajuan yang telah ia capai dari segi taraf hidup. Tapi apa mereka memperdulikan apa itu kemajuan cara berpikir? mungkin iya, eh entahlah. Mungkin…

    Jaman dulu, semua damai mungkin karena semua serba diatur walaupun tanpa adanya ketentuan tertulis atau apa itu kesepakatan. Masyarakat punya aturan main sendiri. Bagaimana aturan yang berlaku di masyarakat sangat berperan dengan pola perilaku mereka saat itu.

    Bagaimana jaman dulu masyarakat masih tau apa itu norma atau nilai-nilai etika. Bagaimana mereka memperlakukan orang yang hamil tetapi tidak bersuami. dari hal-hal kecil seperti itulah yang nyatanya jaman sekarang susah untuk ditemukan. *berbeda dengan fakta sekarang*

    Masyarakat tidak perlu ketentuan tertulis atau kesepakatan tertulis, hanya sekadar aturan yang berlaku saat itu, namun bisa dengan mudah membentuk pola sikap santun yang menjunjung tinggi norma.

    Saya memang juga manusia, manusia yang mungkin setiap harinya juga melakukan kesalahan lantas menangis tiap malam pada setiap pengaduan kepada Tuhan-Nya, lantas esoknya tetap mengulangi kesalahan yang sama. Entah kenapa

    Di dunia yang sekarang menurut saya -sebagai manusia yang masih labil- kontrol masyarakat akan amat sangat diperlukan. Yang merupakan salah satu cara yang bisa mencegah manusia melakukan hal-hal ‘tidak manusiawi’.

    Menurut saya kata “semua tergantung niat dan pribadi masing-masing” sekadar omongan ngelantur orang mabuk di siang bolong. Mana bisa manusia yang setengah dirinya terbuat dari hawa nafsu bisa mengontrol dirinya? mungkin untuk sebagian kecil orang bisa, tapi sebagian besarnya? sebagian besar atau mayoritasnya?


    Begitulah manusia, begitupun saya sebagai manusia
    Saya sadar kontrol masyarakat punya peran penting akan terbentuknya masyarakat yang santun. Elegan sikap dan pola pikirnya.

    — 1 month ago